Cinta seorang Muslim

Segala puji hanya untuk Alloh Tuhan semesta alam, karena Dialah pemilik kesempurnaan yang hakiki juga mutlak tanpa batas. Dan segala sesuatu yang dikatakan sempurna di alam semesta ini, baik dari segi ilmu pengetahuan, pendengaran, penglihatan bahkan kehidupan sekalipun, adalah semata pemberian dari-NYA, Dialah pemilik dan penguasa hakiki dari semua itu.

Apabila indahnya tulisan tangan seseorang menunjukkan kemahiran dan kehebatan si penulis, maka segala yang ada di alam semesta ini dengan segala planet-planetnya yang dengan sain dan tekhnologi modern kita semakin tahu betapa sangat rumit, teliti, serta memerlukan energi yang maha hebat dalam pengaturannya, hal itu semua menunjukkan betapa maha agung ilmu dan kekuasaan Sang Penciptanya, maka tiada yang berhak atas segala puja dan puji secara hakiki kecuali Alloh SWT.
Manusia sebagai makhluk yang paling bagus bentuk tubuhnya diantara penduduk bumi dan yang dikaruniai akal oleh Alloh, setelah tahu akan nikmat-nikmat Tuhannya yang tiada tara terhadapnya,sudah menjadi keharusan untuk pandai-pandai mensyukuri Sang pemberi nikmat dengan menggunakan nikmat-nikmat itu pada hal-hal yang diridhoi-Nya sekaligus hal itu mengundang rasa cinta murni yang semata karena Dialah pemberi nikmat dan segala fasilitas yang telah dia nikmati semenjak lahir secara hakiki, kalau kita mau merenungkkan nikmat mata saja yang dengannya kita bisa melihat segala keindahan dunia dengan segala isinya yang proses melihat satu benda saja telah dibuktikan begitu amat rumit dan kita menerimanya dengan mudah serta gratis juga nikmat-nikmat yang lain sangat banyak, sedangkan pemberian/hadiah dari manusia tetap harus kita syukuri dan berterima kasih kepada si pemberi karena hal itu merupakan perintah agama, tapi kita tahu pemberi dan pemilik segala hal yang hakiki hanyalah Alloh SWT.
Rasa syukur yang besar dan rasa cinta yang murni itu bertingkat-tingkat, yang paling tinggi mendatangkan kerelaan dan kesenangan untuk beribadah kepada pemberi nikmat, dan hal ini hanyalah hak prerogatif Alloh saja, bahkan tujuan penciptaan Manusia dan Jin adalah untuk menyembahnya saja QS.Adzzariyat 56. karena hanya Dia sajalah yang berhak dan patut disembah. Alloh berfirman : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh” (lebih kuat daripada cinta orang kafir pada sesembahan mereka) Albaqarah ayat 165.
Lalu bagaimana dengan cinta kita kepada baginda Nabi, sedangkan dalam sebuah hadist baginda Nabi SAW bersabda : “Tidak sempurna iman seorang diantara kamu sekalian sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia”.Hr Albukhori. dan masih banyak lagi hadist yang senada. Hal ini menunjukkan bahwa cinta kepada baginda Nabi adalah harus bahkan menjadi barometer kesempurnaan iman dari seorang muslim, cuma kita harus tahu bahwa cinta kita kepada para kekasih Alloh adalah karena cinta alloh kepada meraka bukan karena dzat mereka sendiri kalau Alloh tidak mencintai mereka, kita tentu tidak akan mencinta juga. Dan juga Nabi bersabda : “Tidak sempurna iman seorang diantara kamu, selagi cinta kepada saudaranya (seiman) tidak sama dengan cintanya pada dirinya sendiri”.Hr Albukhori, begitu tinggi nilai sosial kemasyarakatan dari hadist ini, karena memang Islam amat mendukung hubungan baik antar sesama, sedangkan dengan non muslim kita tidak masalah bermuamalah dengan mereka sebagaimana hal itu tergambar dengan indah di awal era Madinah sehingga akhirnya terjadi penghianatan perjanjian oleh orang yahudi.
Sudah menjadi kehendak Alloh SWT untuk mengutus Baginda Nabi Muhammad saw kepada ummat manusia sehingga kita tahu cara beribadah kepada-NYA dan sekaligus menjadikan Baginda Nabi sebagai sebaik-baik hambanya dan makhluk yang paling dikasihinya, maka sudah seharusnya beliau mendapatkan cinta yang besar dari kita tapi karena Alloh semata. Begitu juga sikap kita kepada orang-orang yang menuntun kita kejalan islam. Maka apabila orang yang kita hormati dan cintai melanggar syariat Alloh, maka lain lagi permasalahannya, dalam اhadist dituturkan bahwa tidak boleh ta’at pada siapapun apabila bertentangan dengan syariat Alloh, jadi ada garis sharih (jelas) yang membedakan antara seorang muslim dengan yang lain. Lalu dalam sebuah hadist qudsi dituturkan firman Alloh SWT : “Sudah nyata akan mendapat kasih sayangku orang-orang yang saling berziarah karena-KU dan orang yang saling mengasihi karena-KU dan orang yang saling memberi karena-KU dan orang yang saling tolong menolong karena-KU. Hr Ahmad dan Hakim. Jadi jelas permasalahannya bahwa cinta seorang muslim pada sesama akan jadi poin pahala yang besar kalau semuanya dia dasari dengan Lillah wa ilalloh ( semata hanya karena Alloh saja ) seperti yang diteladankan oleh baginda Nabi, beliau tidak akan marah kalau hak pribadinya diganggu tapi beliau akan sangat murka apabila hak Alloh diganggu. Abdulloh bin Umar ra berkata: “ Demi Alloh apabila aku berpuasa selamanya dan solat malam selamanya juga menafkahkan harta yang banyak dijalan Alloh, lalu aku mati pada waktunya tapi tidak ada rasa suka/cinta dihatiku kepada orang-orang yang ta’at kepada Alloh dan benci kepada orang-orang yang durhaka kepada-NYA maka semua amalku tidak akan bemanfaat bagiku”. Sebagai contoh yang tidak baik apabila seorang ibu begitu marah sekali ketika anaknya memecahkan sebuah piring atau benda-benda duniawi miliknya atau melihat anaknya tidak masuk sekolah karena menghawatirkan masa depannya, tapi dia tenang-tenang dan amat mudah bertoleransi ketika anaknya tidak sholat fardlu atau meninggalkan belajar mengaji agama untuk bekal akhiratnya.
Lalu bagaimana hubungan seorang muslim dengan pasangan hidup masing-masing, suami / istri? Kita tahu bahwa menikah adalah sunnah Rasul, kita juga tahu sudah jadi kodrat manusia saling tertarik untuk hidup berpasangan, kita sebagai muslim ada kesempatan untuk menjadikannya sebagai poin untuk mencapai kebaikan dunia akhirat, yaitu dengan melandasi nikah dengan niat untuk melaksanakan sunnah Rasul juga untuk memperbanyak ummat Muhammad serta menyalurkan syahwat pada tempat yang dihalalkan Alloh SWT. bukankah niat menempati posisi yang teramat penting bagi amal ibadah seorang Muslim.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.